Jatinangor, 24 Mei 2026 – Sorak penonton memenuhi area lapangan saat acara BI Tennis Open 2026 berlangsung. Di balik kesuksesan acara tersebut, berdiri seorang pemimpin yang nyaris, bahkan terbilang tidak memiliki pengalaman organisasi ataupun kepanitiaan dalam hidupnya.
Farhana Abda Syakirah, selanjutnya dipanggil Hana, membuktikan bahwa memiliki pengalaman bukanlah syarat satu-satunya untuk memimpin; keberanian untuk belajar juga penting. Sulit membayangkan bahwa mahasiswa jurusan Bisnis Internasional tersebut sebelumnya tidak memiliki pengalaman kepanitiaan ataupun organisasi, namun kali ini keberaniannya bermain dalam menjadi Project Officer BI Tennis Open 2026. Sebuah acara yang menyangkut tidak hanya jurusannya, melainkan hingga ke luar fakultasnya.
Langkah Pertama Menuju Kepemimpinan
Saat duduk di bangku SMA, Hana memilih untuk tidak aktif mengikuti organisasi ataupun kepanitiaan di sekolahnya. Ia lebih ingin fokus dalam meningkatkan nilai akademiknya. Tidak memikirkan bahwa ketika kuliah, menjadi aktif merupakan esensi dari seorang mahasiswa. Awal masuk ke dunia kuliah pun, Hana tidak seperti teman-temannya. Mereka langsung aktif dalam mengambil posisi di sebuah kepanitiaan maupun organisasi kampus. Lagi, Hana memilih untuk memfokuskan dirinya pada nilai akademiknya.
Lebih baik menyesal untuk ikut daripada menyesal tidak ikut. Ketika Himpunan Mahasiswa Bisnis Internasional membukakan

pintu kesempatan bagi Hana untuk mengembangkan diri, Hana membulatkan keputusannya untuk mengambil langkah awal pengalaman organisasinya. Bersama dengan Divisi Sport and Art, Hana belajar untuk lebih bertanggung jawab hingga belajar menjadi seorang pemimpin.
Hana (tengah) bersama Staf Divisi Sport and Art Himpunan Mahasiswa Bisnis Internasional (Sumber: Instagram @himabi.unpad)
Meski baru memulai pengalaman kepanitiaan dan organisasi saat kuliah, Hana justru harus menghadapi kesempatan yang besar: menjadi Project Officer BI Tennis Open 2026. Posisi tersebut menuntut tanggung jawab penuh terhadap jalannya acara, mulai dari koordinasi panitia, hingga memastikan bahwa acara akan berjalan sesuai dengan rencana. Sebuah kesempatan besar yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Awalnya sih takut banget, tapi ini mau nggak mau, harus mau,” ujarnya. Bukan paksaan, melainkan keberanian yang menang atas rasa takutnya. Kekhawatiran dan keraguan akan kemampuannya sudah pasti muncul. Namun, ia tetap memandang kesempatan ini sebagai langkah besar untuk belajar lebih jauh mengenai kepemimpinan dan tanggung jawab. “Kepikiran, kalau bukan sekarang, mungkin aku bakal selamanya ngerasa gak siap”, tambahnya.
Menghadapi Tantangan, Menemukan Kemampuan
Sebuah acara tidak mungkin terbebas dari sebuah konflik. Hana menghadapi beragam tantangan selama persiapan dan jalannya acara. Mulai dari kurangnya jumlah staf untuk mendampinginya selama acara, hingga hujan yang hampir selalu mengguyur jalannya acara. Kondisi tersebut membuat persiapan dan pelaksanaan acara membutuhkan penyesuaian secara cepat. Sebagai Project Officer, Hana harus tetap tenang di tengah situasi yang berjalan tidak sesuai rencana.
“Kadang capeknya tuh bukan karena kerjaannya, tetapi harus berpikir banyak banget hal dalam satu waktu sekaligus,” katanya. Harus memikirkan bagaimana supaya memiliki staf yang cukup di kala juga harus memikirkan bagaimana supaya target peserta terpenuhi. Harus memikirkan bagaimana rundown acara jika hujannya deras di kala juga harus memikirkan bagaimana nasib para peserta yang sudah datang dan menunggu giliran dari awal.
Pengalaman tersebut menjadi hal baru baginya. Posisi yang sebelumnya banyak keraguan justru berubah menjadi ruang belajar tentang bagaimana bertahan di bawah tekanan, menyelesaikan masalah, dan memikul tanggung jawab lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Keberanian yang Terbayarkan
Banyaknya partisipan dari fakultas yang berbeda-beda, menunjukkan keberhasilan dari acara BI Tennis Open 2026 yang telah membayar segala usaha dan keberanian Hana. Keberhasilan tersebut seolah menjadi jawaban atas ketakutan yang sempat muncul di awal perjalanannya. Bagi Hana, memimpin bukan lagi sekedar tentang seberapa banyak pengalaman yang dimiliki, tetapi juga tentang keberanian mengambil tanggung jawab dan bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Pada akhirnya, BI Tennis Open 2026 bukan hanya menjadi cerita mengenai sebuah turnamen yang berhasil. Acara tersebut juga menyimpan perjalanan seorang mahasiswa yang memilih melangkah di tengah rasa takut, lalu membuktikan bahwa keberanian terkadang dapat membawa seseorang lebih jauh dibanding pengalaman.



