Kabupaten Bandung, 9 Mei 2026 — Universitas Padjadjaran (Unpad) resmi menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Internasional bertajuk “From Local Charm to Global Service: Multilingual Hospitality for Eco-Tourism in Lebak Muncang Village, Ciwidey.” Kegiatan yang didanai oleh Program Equity World Class University (WCU) PPM Internasional ini berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Aula Balai Pertemuan Desa Lebak Muncang, Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Lebak Muncang, Bapak Diki Darmawan, S.IP., dan dihadiri oleh 33 peserta yang merupakan para pemandu wisata lokal. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi Unpad dalam memberdayakan masyarakat desa wisata melalui pendekatan kolaborasi internasional, melibatkan akademisi dari Peking University (Tiongkok) dan Universiti Putra Malaysia (Malaysia), serta berbagai pemangku kepentingan lokal.

Kepala Desa Lebak Muncang, Diki Darmawan, S.IP., memberikan sambutan dalam pembukaan acara Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Internasional di Balai Desa Lebak Muncang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026). (Foto oleh: Regita)
Desa Wisata Lebak Muncang menyimpan potensi wisata alam dan budaya yang sangat kaya, mulai dari kebun strawberry, lahan sayur-mayur, hingga kekayaan seni tradisional dan beragam produk olahan lokal seperti keripik strawberry, kerupuk strawberry, agar strawberry, dodol strawberry, dan kopi luwak khas Lebak Muncang. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dapat dinikmati wisatawan mancanegara akibat sejumlah hambatan yang perlu segera diatasi.
Kegiatan ini terdiri dari dua sesi utama. Pertama, pelatihan bahasa asing (Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris) yang difasilitasi oleh Arbi Abdul Kahfi, S.AB., MBA. dan M. Annas Zaenulloh, S.S., M.TCSOL, dengan dukungan 4 mahasiswa asing dari Tiongkok, 1 mahasiswa asing dari Malaysia, dan 2 mahasiswa Universitas Padjadjaran. Sesi ini menghasilkan 1 modul pembelajaran bahasa asing beserta konten digital yang dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat.

Interaksi hangat antara pemateri dan warga saat sesi simulasi percakapan Bahasa Inggris dalam acara PPM Internasional Unpad di Balai Desa Lebak Muncang, Sabtu (9/5/2026). (Foto oleh: Regita)

Para pemateri memberikan pelatihan dasar bahasa Mandarin kepada warga dan pengelola wisata dalam rangkaian acara PPM Internasional Universitas Padjadjaran di Balai Desa Lebak Muncang, Sabtu (9/5/2026). (Foto oleh: Regita)
Kedua, sesi pendampingan dan konsultasi bersama para narasumber. Secara bersamaan dengan sesi pelatihan, para narasumber asing melakukan observasi lapangan ke berbagai titik potensi desa, meliputi kebun strawberry, lahan sayur-mayur, potensi wisata budaya dan alat musik tradisional, serta produk olahan warga. Hasil observasi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi yang kaya dalam sesi pendampingan bersama seluruh peserta.

Sesi diskusi interaktif antara pemateri dan peserta dalam acara Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Internasional Universitas Padjadjaran di Balai Desa Lebak Muncang, Sabtu (9/5/2026). (Foto oleh: Regita)
Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Prof. Xiang Yong (Peking University, Tiongkok), Dr. Sharon Ong Yong Yee (Universiti Putra Malaysia, Malaysia), Dr. Nurillah Jamil Achmawati Novel, S.AB., MBA. (Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran, Indonesia — Ketua Tim PPM), dan Yang Nadia Miranti, S.Hum., M.Pd. (Universitas Brawijaya, Indonesia).
Hasil observasi lapangan oleh para narasumber asing menjadi bahan diskusi yang kaya dalam sesi pendampingan dan konsultasi. Sejumlah permasalahan teridentifikasi selama kegiatan berlangsung. Pertama, kendala komunikasi dengan wisatawan mancanegara masih menjadi hambatan utama. Kedua, perbedaan budaya dan kebiasaan turut menjadi tantangan tersendiri — salah satu contohnya adalah pada usaha homestay, di mana tamu asing umumnya mengharapkan fasilitas kamar mandi dengan shower dan WC duduk. Ketiga, pelaku usaha lokal menghadapi kesulitan dalam menarik minat wisatawan terhadap produk lokal, khususnya alat musik tradisional. Keempat, produksi makanan dan minuman lokal yang masih bersifat by order menyebabkan keterbatasan stok sehingga tidak dapat memenuhi permintaan mendadak dalam jumlah besar. Kelima, desa wisata ini belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku untuk mengatur kebersihan dan kualitas pelayanan secara konsisten.
Dr. Sharon Ong Yong Yee merekomendasikan pemanfaatan aplikasi penerjemah berbasis gawai yang mudah diakses, baik yang berbayar maupun gratis, sebagai solusi praktis mengatasi kendala komunikasi. Ia juga menyarankan agar implementasi lebih lanjut dapat menjadi agenda keberlanjutan program PPM berikutnya.
Prof. Xiang Yong, didampingi oleh Nadia Miranti, S.Hum., M.Pd., menekankan pentingnya pemahaman sejarah kerja sama Indonesia — khususnya Bandung — dengan negara-negara Asia sebagai fondasi untuk membangun visi bersama dalam pengembangan desa yang berkelanjutan. Menurutnya, Bandung memiliki daya tarik luar biasa, baik dari sisi alam maupun budaya, sehingga perlu memiliki representasi layanan yang terstandarisasi. Prof. Xiang dan Nadia juga menyarankan agar Desa Lebak Muncang dapat belajar dari praktik terbaik desa wisata lain di Indonesia, seperti kawasan Borobudur Magelang dan Kampung Warna-Warni.
Lebih lanjut, Prof. Xiang menegaskan bahwa Universitas Padjadjaran sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat perlu terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, agar kegiatan PPM tidak berhenti hanya sebagai program insidental, melainkan menjadi upaya berkelanjutan yang benar-benar mampu menyelesaikan permasalahan nyata masyarakat.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan bahasa. Ini adalah jembatan antara potensi lokal yang luar biasa dengan standar layanan yang diharapkan wisatawan internasional. Kami berharap program ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih panjang dan berdampak nyata bagi masyarakat Desa Lebak Muncang dan Indonesia.”
— Prof. Xiang Yong, Peking University, Tiongkok
Sebagai bentuk akuntabilitas program, kegiatan PPM Internasional ini menghasilkan sejumlah luaran konkret:
- 1 (satu) modul pembelajaran bahasa asing (Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris) yang disesuaikan dengan konteks desa wisata dan hospitalitas;
- Konten digital pendukung pembelajaran bahasa asing untuk digunakan secara mandiri oleh masyarakat;
- Dokumentasi hasil observasi potensi Desa Wisata Lebak Muncang sebagai dasar rekomendasi pengembangan berkelanjutan;
- Jaringan kerja sama internasional antara Unpad, Peking University, Universiti Putra Malaysia, dan Universitas Brawijaya dalam kerangka pengabdian masyarakat berbasis riset.
Kegiatan ini merupakan bukti nyata komitmen Universitas Padjadjaran dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang Pengabdian kepada Masyarakat, dengan standar internasional. Dengan dukungan penuh dari Program Equity WCU PPM Internasional, Unpad berharap kegiatan ini menjadi titik awal dari program pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi Desa Wisata Lebak Muncang dan desa-desa wisata lainnya di Indonesia.





